Mihaly Csikszentmihalyi tak pelak lagi
merupakan salah satu pakar terbaik di bidang kreativitas individu. Dia telah mencurahkan
puluhan tahun dari hidupnya untuk menyelidiki fenomena kreativitas tersebut,
termasuk mewawancarai banyak pemenang Hadiah Nobel dari bidang-bidang yang
berbeda.
Salah satu kesimpulan yang didapatnya
adalah (yang ditulis dalam bukunya yang terkenal, yang judulnya sungguh
kreatif: Creativity): Tidak ada tipe kepribadian tertentu yang bisa
dikorelasikan dengan kemampuan menjadi kreatif. Orang-orang kreatif bisa jadi
adalah ekstrovert, tetapi banyak juga yang introvert. Raphael adalah seorang
ekstrovert dan Michelangelo seorang introvert, dan keduanya adalah jenius
besar. Orang-orang kreatif bisa juga alim seperti para ulama, bisa juga jahat
seperti Hitler. Ada yang hidung belang, tetapi ada juga yang setia sampai mati.
Ada yang konservatif, ada yang berpikiran terlalu maju. Ada yang serius, ada
yang santai. Tegasnya, tidak ada konsistensi di sini.
Bagaimana dengan pengaruh genetik?
Pengaruh genetik memang tidak bisa diabaikan, tetapi pengaruhnya lebih ke
menentukan kecendrungan bidang mana yang akan dikuasai seorang individu dengan
baik. Orang yang dilahirkan dengan sensitivitas yang tinggi terhadap suara akan
cenderung menjadi ahli musik atau penyanyi yang baik. Bila hal itu digabung
dengan latihan keras di bidang tersebut, mereka dengan mudah akan menjadi ahli
musik atau penyanyi yang sukses dan kreatif.
Csikszentmihalyi kemudian menyimpulkan,
kalaupun ada satu kata yang bisa dipakai untuk menyimpulkan sifat-sifat yang
dimiliki orang-orang kreatif, maka kata tersebut adalah kompleks (complex).
Dengan istilah ini, Csikszentmihalyi mengartikan kemampuan individu menunjukkan
dua sifat ekstrim secara bersamaan, yang umumnya sulit ditunjukkan oleh
orang-orang normal lainnya. Sebagai contoh, individu yang kreatif bisa memiliki
imajinasi yang menggila dan kesadaran akan keterbatasan realitas pada saat yang
sama. Kemampuan seperti itulah yang memungkinkan mereka berpikir secara “lain”.
Kemampuan menunjukkan sifat-sifat ekstrim
tersebut sebenarnya dimiliki oleh setiap orang. Tetapi, pada kebanyakan dari
kita, kita telah melatih diri kita sehingga hanya satu sisi dominan saja yang
muncul. Carl Jung, psikoanalis dari Swiss yang terkenal itu telah lama
menyelidiki fenomena tersebut dan menciptakan istilah shadow. Shadow adalah
sisi lain dari sifat dominan kita yang jarang dikembangkan. Orang alim,
misalnya, kadang ingin menjadi liar. Cowok macho kadang ingin menangis lepas.
Menurut Jung, selama kita menekan shadow kita dengan keras dan berusaha
menafikan keberadaannya, kita tidak bisa menjadi manusia seutuhnya.
Orang-orang kreatif, karenanya, adalah
orang-orang yang bisa berdamai dengan shadow mereka. Lalu, apa saja sifat-sifat
kontradiktif yang sering ditunjukkan oleh orang-orang kreatif? Csikszentmihalyi
memberi sebuah daftar yang terdiri dari 10 pasangan sifat:
• Energi
fisik yang besar dan ketenangan. Mereka bisa bekerja keras sampai tidak
mengenal waktu, bahkan pada usia tua; namun mereka tahu kapan harus berhenti
dan mengisi ulang energi mereka.
• Cerdas dan
naif pada saat yang sama. Tentu tidak ada lagi yang meragukan kecerdasan
orang-orang kreatif besar seperti Einstein, tetapi mereka sering melihat dunia
melalui kaca mata seorang anak kecil (dan kadang menunjukkan sikap seperti anak
kecil).
• Suka
bermain-main dan disiplin. Mereka bekerja keras dan disiplin, tetapi juga
melihat pekerjaan mereka sebagai permainan yang menyenangkan.
•
Berimaginasi dan realistis. Mereka berkhayal untuk mengeksplorasi
kemungkinan-kemungkinan masa depan, tetapi tidak melarikan diri dari realitas
dan keterbatasan hari ini.
•
Ekstrovert dan introvert. Mereka mampu menjalin hubungan dengan orang-orang
lain, tetapi suka sendirian juga.
• Rendah
hati dan bangga. Mereka sadar pengetahuan dan ciptaan mereka merupakan hasil
dari individu-individu besar lainnya, tetapi mereka juga berambisi besar dan
berbesar hati dengan pencapaian yang mereka peroleh.
• Maskulin
dan feminin. Jangan lihat ini sebagai kecendrungan seksual yang mengarah ke
homoseksualitas. Namun istilah ini menunjukkan kecendrungan psikologis dalam
pengertian yang lebih luas. Sebagai contoh: pria yang kreatif memiliki
kemampuan yang lebih dalam mengungkapkan perasaan mereka dibanding rekan-rekan
mereka; sementara wanita kreatif bersikap lebih dominan dibanding wanita-wanita
yang “kurang” kreatif.
•
Pemberontak dan patuh. Orang kreatif memberontak dengan mengajukan ide-ide
baru, tetapi pada saat yang sama tetap mampu bekerja dan mengikuti peraturan di
domainnya. Sebagai contoh: Anda tidak mungkin menjadi seorang pemusik kreatif
bila tidak mengikuti aturan-aturan dan prinsip-prinsip dasar musik.
• Bergairah
dan bersikap objektif terhadap pekerjaannya. Dengan gairah, mereka memelihara
energi untuk berkarya, dan dengan sikap objektif mereka menilai validitas dan
menjaga kredibilitas karya mereka.
• Mudah
disakiti dan disenangkan. Sikap sensitif, atau penolakan-penolakan membuat
mereka mudah disakiti; namun berkarya untuk sesuatu yang benar-benar disukai
membuat mereka mendapatkan kepuasan jiwa terus menerus.
Polaritas seperti itu, menurut
Csikszentmihalyi, memang dibutuhkan agar kita bisa menjadi kreatif. Tanpa
kemampuan berpindah dari satu ujung ke ujung lainnya, kita sulit menciptakan
sesuatu yang baru tetapi dihargai oleh dunia hari ini.
Anda tidak memiliki kemampuan menjadi
insan yang kompleks seperti itu? Jangan kuatir. Toh, tidak semua sifat-sifat
tersebut harus hadir pada orang yang sama. Hasil penelitian tersebut dilakukan
pada insan-insan yang sungguh terkenal di bidangnya. Untuk orang-orang awam
yang hanya ingin sekedar kreatif, kita tidak perlu memiliki jiwa sekompleks
itu. Selain itu, seperti kata Csikszentmihalyi sendiri, kemampuan
berkontradiksi tersebut sebenarnya sudah ada di dalam diri kita semua. Kita
hanya perlu mengakui keberadaan shadow kita dan memakainya pada saat yang
dibutuhkan.
Kita semua adalah makhluk-makhluk kreatif!
Sumber : Creative Thinking — itpin

0 komentar:
Posting Komentar