“…siapapun kita, untuk memiliki “indera
keenam” yang mampu menerawang enxiety serta desire pelanggan, salah satu
syaratnya adalah melalui “tirakat” di dunia mereka”
Di pertengahan era 1990-an, ada sebuah eksperimen
menarik yang dilakukan oleh kwartet neuroscientist Giacomo Rizzolatti,
Vittorio Gallese, Luciano Fadiga, dan Leonardo Fogassi.
Para scientist asal
Italia ini menemukan bahwa di dalam otak manusia terdapat sebuah area unik yang
mereka namakan mirror neuron. Dinamakan seperti itu karena bagian ini
memungkinkan kita untuk mereplikasi perilaku orang lain yang kita lihat,
seolah-olah kita sendiri yang melakukannya.
Kemampuan
tersebut menjadikan mirror neuron memiliki peranan penting dalam proses
pembelajaran. Misalnya saja saat kita menyaksikan seorang berlatih menggiring
bola di tanah lapang, saat itu pula sebenarnya mirror nueron sedang
membantu kita untuk belajar menggiring bola sendiri. Di level bawah sadar, mirror
neuron memungkinkan kita untuk belajar hanya dengan melihat (learning
just by watching).
Namun
mirror neuron masih menyimpan satu rahasia lagi yang tidak kalah
dahsyat: kemampuan untuk menggali tacit information tentang orang lain.
Neuron ini tidak hanya membantu proses belajar kita, namun juga membantu kita
menyelami kehidupan orang lain.
Kita
pun menjadi lebih mudah memahami apa yang dirasakan orang lain:kebahagiaan saat
mereka senang dan kesedihan saat mereka berduka, termasuk memahami kegelisahan
dan keinginan mereka yang paling dalam (anxiety and desire).
Bayangkan
apa yang bisa dilakukan oleh seorang marketer jika “indera keenam” tersebut
dimiliki!
Namun
mirror neuron memiliki satu keterbatasan. Area emas di dalam otak kita
membutuhkan interaksi langsung dengan obyek agar optimal potensi mirroring yang
dimilikinya. Artinya, sebagai marketer kita harus langsung bertemu dengan
pelanggan untuk bisa memahami anxiety dan desire yang
dimilikinya. Atau jika memungkinkan, melakukan apa yang pelanggan lakukan.
Penelitian
dari para neuroscientist ini mengajarkan kepada kita, bahwa menjadi
marketer handal tak cukup hanya bertumpu pada kemampuan analisa yang mumpuni
dari belakang meja. Bertemu langsung atau pun menjalani langsung kehidupan
mereka adalah sebuah pra syarat agar kita bisa memahami context yang ada
di balik semua data dan angka.
Jika
Anda adalah karyawan baru di Netlfix, perusahaan jasa penyewaan video asal
Amerika, maka Anda berhak mendapatkan free subscription untuk menikmati
layanan dari perusahaan selama jangka waktu tertentu.
Tidak
punya DVD player di rumah? Jangan khawatir, baik yang di front office
maupun back office, mampu merasakan apa yang dirasakan pelanggan.
Benar-benar merasakannya sendiri, tidak sekedar membayangkan.
Kesimpulannya,
siapapun kita, untuk memiliki “indera keenam” yang mampu menerawang enxiety
serta desire pelanggan, salah satu syaratnya adalah melalui “tirakat” di
dunia mereka.
Sumber :
(Dr. Jacky Mussry –
Chief Knowledge Officer, MarkPlus, Inc.)

0 komentar:
Posting Komentar